Welcome to Angklung Web Institute (AWI)! This website is a medium of information exchange about angklung knowledge and competence, especially diatonic angklung in orchestral composition. The Father of Angklung Daeng Sutigna first created the diatonic angklung in 1938. Until now, angklung still has to face many challenges of identity to be acknowledged as one of world’s standard music instruments. One major problem is that there is no firm standard yet in constructing, tuning, forming, playing, and compositing angklung. Another problem is that until today, an angklung music community as a media of education and industrialization of the angklung music hasn’t been founded yet. Through this website we would like to ask you who have a great concern to the development of angklung to pass this piece of information to the world in order to support this developing music instrument. Through this website we would like to convey an angklung-ical activity to an angklung team or community and hopefully someday the industrialization of angklung can be realized. Last, it is our duty to raise our angklung to be appreciated just like the other world’s standard music instruments. Thank you

ANGKLUNG DALAM KEINDONESIAAN KITA (iwan.pirous.com, 10 April 2009)

Oleh : Iwan Pirous

Sentimen kebangsaan selalu membutuhkan serentetan ikon budaya kongkret. Banyak orang Indonesia yang khawatir bahkan bersikap reaktif terhadap tangkasnya negara tetangga kita Malaysia yang mengakui angklung, batik, reog sebagai kesenian nasional mereka. Kekhawatiran ini mengarah pada harapan bImageahwa negara harus kongkret melindungi kesenian khas bangsa Indonesia untuk kepentingan identitas nasional. Intinya, jika ingin mengangkat properti budaya yang khas menjadi identitas yang representatif bagi bangsa, maka syarat utamanya adalah properti tersebut harus terlibat dalam kesejarahan bangsa untuk memenuhi visi otoritas ke masa lalu, sekaligus juga populer dalam imajinasi kolektif pada waktu sekarang untuk visi masa depan. Bangsa-bangsa modern yang tangguh setia mempertahankan prinsip ini untuk lestari. Angklung adalah elemen budaya yang terlibat dalam dua gaya tarik tradisional-modern sehingga menarik diisyukan sebagai ikon bangsa yang potensial dan kongkret.

Dialog “tradisi” dan “modernitas” dalam Angklung

Dalam bentuknya yang tradisional, angklung dikenal secara terbatas di Jawa sebagai alat musik ritual perladangan padi yang dimainkan berkelompok. Para pemain menggetarkan angklung lebih pada tujuan menciptakan ritmik yang membangun atmosfir upacara penghormatan pada Dewi Sri, bukan berkesenian, apalagi membawakan komposisi. Sebagai alat musik tradisional di masa kolonial abad ke-20 pun, angklung bukanlah merupakan alat musik populer, bahkan hampir punah dan hanya dimainkan oleh pengemis. Sampai pada tahun 1938, seorang guru muda yang sangat musikal di Kuningan bernama Daeng Soetigna melakukan inovasi dengan membuat satu set angklung yang membawakan tangga nada diatonis kromatis. Angklung baru yang kemudian dikenal dengan nama Angklung Padaeng dapat menghasilkan melodi dan juga akord yang menjadi pondasi musik modern dan dapat membawakan komposisi sistem “do-re-mi-fa-sol”. Sang guru muda tadi yakin bahwa anak hanya dapat belajar termasuk berlatih disiplin kalau hatinya riang gembira, misalnya dengan cara bermain musik dengan lagu-lagu yang disukai. Maka baginya angklung adalah media pendidikan modern yang terus diperjuangkannya sehingga menjadi sangat populer di sekolah-sekolah hingga saat ini.

Dalam wujudnya yang modern, angklung Padaeng tetap menunjukkan ciri tradisional yang kental. Pertama: cara memainkan angklung secara komunal tetap dipertahankan sebagaimana angklung Sunda dulu kala. Walau secara teoretis satu set angklung yang digantung berbaris dapat dimainkan oleh satu orang demi tujuan efisiensi, gagasan modern tentang angklung tetap berpegang pada asas solidaritas dan komunalitas yang selalu ada dalam konteks kehidupan masyarakat tradisional. Angklung adalah musik pertunjukkan dengan nilai individualitas minimal dimana setiap pemain sekaligus menonton dirinya sendiri pada pemain lainnya. Kedua, bentuk angklung, bahan, dan prinsip mekanika angklung tetap mengandalkan warisan teknologi tradisi yang dipertahankan yaitu resonansi tabung bambu yang digetarkan. Jadi, angklung dalam bentuk modern membawa juga eksotika tradisional yang menunjukkan kontinuitas dengan masa lalunya termasuk juga dalam cara memainkannya. Bahkan, pengembangan angklung ke arah diatonis-kromatis berdampak sinergis terhadap leluhur pentatonis tradisionalnya dengan semakin hidupnya angklung tradisional pada tahun 1960-an sebagai reaksi positif atas popularitas Angklung Padaeng seperti yang dikatakan budayawan Sunda Nano S dalam acara diskusi Kebangkitan Nasional: 100 tahun Daeng Soetigna 20 Desember yang lalu.

Angklung dan Rekacipta Identitas Kebangsaan

Angklung terlibat dalam perjalanan Indonesia menuju bangsa modern berdaulat. Angklung beberapa kali dimainkan dalam peristiwa kesejarahan kita sebut saja Peristiwa Linggarjati 1947, KAA 1955, dan sebagai misi budaya dalam normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia 1967. Tanpa keraguan angklung adalah elemen khas diplomasi kultural Indonesia. Lebih dari itu, angklung juga manawarkan nilai-nilai tradisi seperti solidaritas, toleransi, dan kerjasama dalam angklung yang sejalan dengan ciri khas dan kekuatan cultural capital komunitas-komunitas etnis di Indonesia. Jika bangsa itu harus modern berorientasi kedepan sekaligus juga bersifat sebagai recent vintage yang dibungkus dengan tradisi-tradisi yang diramu dari masa lalu untuk melanggengkan kekuasaan dan kewibawaannya, maka angklung hadir sebagai komponen budaya yang memenuhi syarat untuk menjadi ikon nasional. Dialog modern-tradisional yang sinergis dalam dunia angklung sungguh terasa. Maka, dalam hal ini negara dapat berperan sebagai agen yang melakukan “rekacipta tradisi” atau dengan kata lain serangkaian usaha “rekayasa” untuk menciptakan elemen simbolik yang khas dan berwibawa dengan kesadaran untuk memperkuat sentimen kebangsaan. Dalam rekacipta ini unsur masa lalu dipertahankan demi kepentingan otentik, sementara unsur primordial etnis yang tidak kondusif dalam usaha membina sentimen kebangsaan dapat dikesampingkan.

Dalam tahap lebih kongkret, angklung masih memerlukan aspek perlindungan hukum, promosi, festival, ruang tampil, dan usaha konsisten mengintegrasikannya ke dalam kurikulum pendidikan nasional sebagai aset bangsa. Tokoh-tokoh penerus angklung seperti Obby A.R yang berjuang agar angklung terus hadir dalam dunia pendidikan dasar dan Alm. Udjo Ngalagena yang berkiprah mempromosikan angklung sebagai industri budaya mengisi ruang kosong yang strategis tentang perlunya identitas dan branding sebagai bangsa. Angklung hanyalah satu titik dari sekian banyak usaha menemukan kembali keindonesiaan kita yang hilang. Akhirnya, keindonesiaan sebagai sesuatu yang kita butuhkan di masa krisis, selamanya adalah konstruksi budaya-politik yang harus senantiasa dipelihara oleh negara untuk memperkuat sentimen kebangsaan rakyat kita.